AKADEMIKNASIONAL

Respons Program Makan Bergizi Gratis, UAD Pilih Unjuk Gigi Lewat Inovasi Pangan Lokal dan Gizi

×

Respons Program Makan Bergizi Gratis, UAD Pilih Unjuk Gigi Lewat Inovasi Pangan Lokal dan Gizi

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA – Wacana keterlibatan perguruan tinggi dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) besutan pemerintah tengah menjadi buah bibir di dunia akademik. Menanggapi riuh rencana pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh kampus, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta mengambil sikap tegas: tetap setia pada khitah Tridarma Perguruan Tinggi, namun melangkah lebih jauh lewat aksi nyata.

Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menegaskan bahwa fondasi utama kampus tidak akan bergeser. Fokus UAD akan tetap bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Fokus kami saat ini tetap pada pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi,” ujar Prof. Muchlas, Jumat (22/5/2026).

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dorongan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, yang berharap kampus-kampus di Indonesia ikut ambil bagian secara aktif dalam mengawal program gizi nasional tersebut.

Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta: Kampus Masa Depan Berbasis Nilai, Inovasi, dan Budaya

Senjata Kampus: Riset Gizi dan Pangan Lokal Lawan Stunting.

Bagi UAD, kontribusi terhadap kesehatan masyarakat bukan hal baru. Tanpa harus keluar dari koridor akademis, kampus ini sudah lama ‘curi start’ dalam mengarsiteki solusi masalah gizi secara independen.

Melalui kolaborasi apik antara Program Studi Teknologi Pangan, Gizi, dan Bisnis Jasa Makanan, para dosen dan mahasiswa UAD aktif menelurkan berbagai inovasi pangan. Hebatnya, hasil riset laboratorium tidak berakhir berdebu di rak perpustakaan. Inovasi-inovasi tersebut langsung diterjunkan ke masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan sosialisasi terarah.

Salah satu aksi nyata yang menjadi sorotan adalah pengembangan produk olahan pangan berbasis bahan lokal. Formula ini dirancang khusus untuk memerangi angka stunting di wilayah Kulon Progo dan Gunungkidul.

“Implementasi hasil penelitian kami lakukan langsung lewat pelatihan, sosialisasi, hingga KKN. Salah satu fokus utamanya adalah pemanfaatan pangan lokal untuk menyokong pencegahan stunting,” tambah Muchlas.

Garda Depan UMKM Halal yang Diakui Negara.

Tak hanya berkutat di urusan piring makan masyarakat, taji UAD juga terasa di sektor ekonomi kerakyatan. Melalui Ahmad Dahlan Halal Center (ADHC), UAD mendampingi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas dengan mengantongi sertifikasi halal. Langkah ini krusial demi menjamin legalitas, higienitas, sekaligus keamanan pangan produk lokal.

Komitmen ini bukan isapan jempol. ADHC UAD sukses menyabet penghargaan bergengsi dari Kementerian Perindustrian RI sebagai Best Halal Innovation on Academic Achievement dalam ajang Indonesia Halal Industry Award (IHYA) 2024. Prestasi ini kian mentereng karena UAD menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil memboyong piala tersebut.

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan dinamika kebijakan pemerintah, Prof. Muchlas mengingatkan bahwa esensi kampus hari ini adalah memperkuat ekosistem akademik. Melalui riset gizi yang kuat, pengabdian masyarakat yang berdampak, dan penguatan sektor halal, UAD membuktikan bahwa kontribusi terbaik perguruan tinggi untuk negara adalah dengan cara mempertajam kualitas Tridarma itu sendiri. [RN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *